Misty Angel

Whispers in the woods

I’ll Take You Back 3

Kampus sudah benar-benar sepi sore itu. Di kantin yang terbuka, angin berhembus membawa hawa pengap. Bakal turun hujan, pikir Camilla. Dia menengadah menatap langit yang mulai menggelap sambil melamun. Hatinya tengah berbunga-bunga. Rasa cinta yang meletup-letup membuatnya mendesah bahagia. Hanya ketika suara angin melewati dahan-dahan pepohonan membuat suara ribut, barulah Camilla memutuskan untuk pulang.

Dia sendiri juga tidak tahu untuk apa dia menghabiskan lima belas menit di kantin setelah Ardi pulang.

Di lapangan parkir, mobilnya tampak sendirian di lahan yang luas. Kendaraan-kendaraan lain yang memenuhi lapangan itu di pagi hari, sorenya sudah menghilang semua. Mungkin juga karena tidak terlalu banyak kelas di hari Jumat, atau karena teman-temannya yang lain sudah langsung pergi untuk berakhir pekan.

Langkah kaki Camilla terhenti ketika dia melihat seseorang tengah bersandar di kap mobilnya. Camilla otomatis menoleh kesana kemari mencari satpam, tukang parkir, ataupun pemilik kendaraan lain. Hanya ada satu mobil lagi yang terparkir agak jauh dari mobilnya, dan Camilla tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Kenapa ada orang di mobilnya? Orang yang membuatnya takut itu menyadari kedatangannya, lalu menoleh seraya menyeringai.

Hi there,” katanya. Read the rest of this entry »

Advertisements

I’ll Take You Back 2

Lantai tempat departemen Rita berada sedang riuh. Nella, salah seorang sekretaris lain yang bulan lalu menikah, mengumumkan kabar kehamilannya.

“Wah, selamat!” ujar Budi.

“Sudah berapa minggu?” Wati tersenyum-senyum sambil mengelus-elus perut Nella dan perutnya sendiri yang masih kempes. Dia sudah menikah hampir setahun dan masih menunggu. Dia berharap, dengan mengelusi perut Nella, rejeki hamilnya bisa menular.

“Tiga minggu,” jawab Nella tersipu malu.

“Tokcer nih, ye,” gurau Jaka. “Baru sebulan lho!”

“Berisik lu, Jek!”

“Suamimu pasti senang. Keluarganya pingin banget cucu laki-laki kan?” tanya Mbak Marni, senior di situ.

“Semoga memang laki-laki,” ujar Nella penuh sayang kepada perutnya. Read the rest of this entry »

I’ll Take You Back 1

“Mau kemana?”

Ardi memutar kepala dengan sedikit kaget. Tidak disangka Rita terbangun mendengarnya hendak keluar.

“Ah,” gumamnya mengulur waktu, mencari alasan yang masuk akal. “Mau keluar sebentar. Aku nggak bisa tidur. Mungkin kalau aku jalan-jalan sebentar aku bisa ngantuk.”

“Jam segini?” Rita menoleh ke arah jam besar di ruang keluarga. Jarumnya menunjukkan pukul setengah dua belas malam.

“Sori, kamu kebangun, ya?” tanya Ardi.

Istrinya diam saja. Hanya menyandarkan diri di dinding sambil melipat tangan di dada. Ardi kembali menunduk mengikat tali sepatu olahraganya. Lebih baik tidak bertingkah mencurigakan atau Rita akan melarangnya pergi malam ini.

“Cuma jalan-jalan malam kok wangi banget?” kata Rita lagi.

“Oh ya?” Ardi berlagak tolol sambil mengangkat tangan untuk mengendus ketiaknya. “Sisa parfum kemarin habis dari gym mungkin? Masa aku semprot parfum cuma buat jogging sebentar? Buat satpam komplek?” selorohnya. Read the rest of this entry »

Her Value

Kedai kopi itu tidak seberapa ramai ketika Kirana masuk ke dalamnya. Seorang pelayan perempuan dengan celemek hitam panjang menghampirinya. Di tangannya sudah tergenggam buku menu. Kirana memberi tanda bahwa dia ingin duduk di meja kecil di sudut yang cukup tersembunyi.

Chai latte satu,” katanya setelah memilih-milih.

Pelayan itu berlalu dengan pesanannya. Sambil menunggu, Kirana meletakkan dagunya di atas satu tangan yang berada di meja. Diperhatikannya pengunjung lain di kedai kecil itu yang sibuk dengan urusan masing-masing: sepasang kekasih yang duduk di samping jendela, seorang karyawan berjas yang tengah menyeruput kopi sambil membaca sesuatu di tablet-nya, dan tiga orang anak muda yang membawa skateboard. Kirana menghembuskan napas dengan keras. Yang ditunggunya belum datang juga, padahal dia sengaja datang agak terlambat agar bisa langsung bertemu dengan yang ditunggu. Sekarang, lima belas menit sudah berlalu sejak waktu yang dijanjikan. Read the rest of this entry »

Tangisku

tear_drop_by_joscos

 

Aku menangisi masa depan yang akan datang,

 

Aku menangisi hal-hal yang belum terjadi,

 

Dan aku menangisi hati yang terluka saat ini.