Misty Angel

Whispers in the woods

The Blurred Lines

Where is the line of sanity and insanity?

When you think you have everything in life under control

That you are content and happy

Yet strangely still feeling hollow

 

Sometimes I wonder

How can we know we are sane?

Are we sure it is not the opposite?

Who sets the rules?

Who got the last say? Read the rest of this entry »

Advertisements

At This Moment

At this moment in my life,

I’m scared.

When I was younger,

ghosts used to be scary.

As I grow older,

instead of becoming wiser,

I’m lost in this game called life. Read the rest of this entry »

Alone

When do you feel the most empty?

For me, it’s when I’m not alone.

Humans are capable to feel lonely even though they aren’t alone.

Yet, I’m the opposite.

When does one know when the end of their life is coming?

For me, I wish the end would come sooner, so I don’t have to deal with this hollowness.

So many voices around me, and slowly they are suffocating me.

Funny thing is, they don’t even realise.

How do you know you’re walking on the right path? Read the rest of this entry »

To A Better Place

Orang-orang bilang umur enam belas adalah saat di mana hidupmu yang sesungguhnya akan dimulai. Aku tidak tahu gadis seperti apa yang baru memulai hidupnya pada umur enam belas, karena aku tahu, saat aku mencapai umur itu, hidupku berakhir.

Itu adalah pikiran pertama yang muncul di kepalaku saat aku tersadar. Aku terbangun karena suara musik dan suara-suara lain berdentum-dentum di telingaku, mengganggu tidurku. Aku membuka mata dengan susah payah, dan hanya putih yang bisa kulihat. Awalnya kukira adikku yang sedang memasuki masa pemberontakan sedang berlatih drum lagi di kamarnya dan aku sudah bersiap-siap memakinya, tapi saat menyadari kamarku tidak mungkin seterang ini, aku sadar ada yang salah. Sangat, sangat salah.

Suatu perasaan panas dan dingin muncul secara bergantian di perutku, seperti minum es soda dan teh panas bergantian. Otakku tidak dapat bekerja dengan baik, karena dia tidak mengirimkan peringatan apapun, meskipun aku yakin aku tidak berada di kamarku. Setelah mataku mulai terbiasa dengan semua cahaya dan warna putih memuakkan di sekitarku, aku mendorong tubuhku duduk. Read the rest of this entry »

Goodbye, Brother

Suara hujan yang turun di sekeliling kami membuatku tidak terlalu bisa mendengar apa yang diucapkan pastor. Pria dengan jubah hitam itu menolak payung, dan membiarkan dirinya basah kuyub seakan dia hanya mencuci tangan; seakan dia sudah terbiasa. Tapi, mungkin saja dia memang sudah terbiasa kehujanan ketika membacakan doa terakhir bagi yang meninggal. Berapa banyak kematian yang harus didatanginya akhir-akhir ini?

Terdengar suara seseorang cegukan. Aku menoleh. Salah seorang kakak sepupuku menutup wajahnya dengan sapu tangan putih untuk meredam tangisnya. Sapu tangannya menjadi satu-satunya warna di antara lautan hitam yang mengelilingi peti mati, setitik terang di tengah dunia yang kelabu.

Aku menaikkan payungku sedikit agar aku bisa menengadah menatap langit. Hanya gelap yang kulihat. Aku menurunkan pandangan ke tanah, melihat peti mati itu perlahan turun ke dasar liang kubur. Pastor membuat tanda salib sambil mengucapkan sesuatu. Alkitab di tangannya sudah basah sepenuhnya, tidak meninggalkan tempat bagi tetesan air untuk menimbulkan bercak basah di kertasnya. Kulihat dua teman baikku, dalam balutan jas hitam berkabung mereka, memandang peti mati itu dengan wajah campur aduk. Aku tahu apa yang mereka rasakan; aku juga tidak yakin kapan duka yang menggerogoti jantungku ini akan berhenti. Read the rest of this entry »